norwayattractions.net – Kalau sesekali main ke beberapa sudut Kota Cilegon, mungkin kelihatan masih ada area perumahan yang serba mepet dan agak berantakan. Nah, urusan bikin pemukiman warga jadi rapi dan enak ditinggali ini ternyata bukan perkara yang gampang. Pihak Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Cilegon sendiri blak-blakan ngaku kalau mereka masih kewalahan kalau harus beresin semuanya sendirian.
Read More : Kabar Baik! Cilegon Jadi Kota Percontohan Nasional Dalam Inovasi Pelayanan Publik!
Berdasarkan data dari surat keputusan walikota, area yang masuk kantong permukiman kumuh di Cilegon itu luasnya masih ada sekitar 76,69 hektar. Angka segitu tersebar di beberapa titik wilayah. Untungnya sih, kelas kumuhnya masih masuk kategori ringan sampai sedang, bukan yang parah banget.
Soal kawasan kumuh yang tergolong berat, Cilegon sebenarnya udah dapet “rapor hijau” alias dinyatakan bebas dari Pemerintah Pusat sejak lima tahunan lalu, tepatnya di 2019. Cuma ya gitu, sisa kawasan kumuh kelas ringan dan sedang ini tetep aja butuh perhatian ekstra biar gak makin parah.
7 Pekerjaan Rumah Supaya Cilegon Beneran Kinclong
Biar sebuah wilayah bisa cap jempol dan lepas dari predikat kumuh, ada standar ketat yang kudu dipenuhi. Gak asal sapu jalanan terus kelar, tapi ada 7 indikator penting yang wajib dibenahi:
- Fisik bangunan rumah warga yang aman dan layak.
- Akses jalan warga yang rapi dan gampang dilewati.
- Air bersih yang ngalir lancar buat kebutuhan harian.
- Saluran air alias selokan yang gak mampet.
- Urusan sampah rumah tangga yang terkelola dengan baik.
- Fasilitas sanitasi dan WC yang higienis.
- Alat pelindung dan keamanan kalau sewaktu-waktu ada kebakaran.
Kalau tujuh poin tadi belum kelar, ya otomatis penilaian skornya bakal ketahan dan kawasannya belum bisa dibilang bebas kumuh.
Gang Sempit dan Urusan Air Jadi Ganjalan Paling Berat
Di antara semua poin penilaian tadi, ternyata urusan proteksi kebakaran yang paling bikin pusing di lapangan. Masalah utamanya sepele tapi krusial: banyak banget jalanan pemukiman di Cilegon yang ukurannya ngepres alias sempit banget. Begitu ada musibah, mobil damkar ukuran standar bakal kesulitan masuk ke dalam gang.
Udah jalannya sempit, armada pemadam kecil yang pas buat masuk gang juga jumlahnya terbatas. Makin pusing lagi karena banyak titik pemukiman yang belum punya hidran air.
Kenapa hidran ini belum dipasang? Ya karena saringan pipa air bersih dari PDAM emang belum nyampe ke semua sudut pemukiman. Garis besarnya, urusan jalan sempit sama pasokan air pemadam inilah yang nyumbang angka penilaian paling tinggi kenapa Cilegon belum lepas total dari status kumuh.
Baca juga:Proyek Pabrik Baru Cilegon Bikin UMKM Lokal Kecipratan Rezeki Nomplok!
Solusinya Ya Wajib Bagi-Bagi Tugas Antar-Dinas
Melihat benang ruwet di lapangan, Disperkim sadar betul kalau kunci utamanya ada di kolaborasi. Masalah kompleks kayak gini emang gak bakal mempan kalau cuma digarap satu pihak. Harus ada pembagian tugas yang jelas antar-dinas terkait. Contoh sederhananya begini:
- Dinas PUPR fokus ngurusin perbaikan serta pelebaran akses jalan lingkungan.
- Dinas Kesehatan kebagian tugas membenahi fasilitas sanitasi dan jamban warga.
- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ngasuh urusan manajemen dan pengangkutan sampah.
- Dinas Pemadam Kebakaran nyiapin skema pengamanan dan penanganan darurat kebakaran.
Kalau semua dinas terkait bisa jalan barengan dan saling melengkapi, penataan di tiap wilayah target pasti bisa tuntas tas. Begitu pengerjaan di satu daerah selesai, hasilnya beneran bersih total tanpa ada masalah susulan yang ketinggalan.